Uncategorized

Produsen Go-Up Matras Judo Pro Kompetisi

Produsen Go-Up Matras Judo Pro Kompetisi

Untuk info lebih lanjut dapat langsung menghubungi ke :

Telp : 021 470 5841

Hp & WA : 08127866663 / 081289854040

Alamat : Jl. Panca wardi, No. 33-34, Kayu Putih, Jakarta Timur

Fungsi Matras dalam Seni Bela Diri Judo

Dalam seni bela diri Judo, memang kerap kali menerapkan teknik menjatihkan lawan (membanting). Karena itulah keberadaan matras judo sangatlah vital untuk menunjang keselamatan para atet selama sesi latihan maupun pertandingan.

Judo sendiri merupakan seni bela diri yang berakar dari Jepang yang dikembangkan dari seni bela diri kuno Jepang yang disebut Jujutsu. Jujutsu sendiri merupakan seni bertahan dan menyerang menggunakan tangan kosong atau tanpa senjata.

Olahraga ini menjadi model dari seni bela diri Jepang, gendai budo, dikembangkan dari sekolah (koryu) tua. Pemain judo disebut judoka atau pejudo.

Sekilas Tentang Judo

Jigoro Kano menambahkan ciri khasnya sendiri pada banyak cabang jujutsu yang dipelajarinya pada masa itu. Pada tahun 1882 Jigioro Kano mendirikan sebuah dojo di Tokyo yang disebut Kodokan Judo. Dojo pertama ini didirikan di kuil Eisho ji, dengan jumlah murid sembilan orang.

Tujuan utama jujutsu yaitudapat menguasai teknik menyerang dan bertahan. Kano telah mengadaptasi tujuan ini, namun Ia lebih mengutamakan sistem pengajaran dan pembelajaran. Ia mengembangkan tiga target spesifik untuk judo:

  1. Latihan fisik,
  2. Pengembangan mental / roh,
  3. Kompetisi di pertandingan-pertandingan.

Perbedaan Judo dengan jujutsu

Terjemahan Judo secara harafiah adalah ‘cara yang halus’. ‘Cara’ atau ‘jalan’ yang dimaksud disini memiliki konotasi secara etika dan filosofis. Jigoro Kano mengungkapkan bahwa konsep filosofinya dengan dua frasa, “Seiryoku Zen’yo” (penggunaan energi secara efisien) dan “Jita Kyoei” (keuntungan bagi diri sendiri dan orang lain).

Meskipun disebut halus, akan tetapi sebenarnya judo merupakan kombinasi dari teknik-teknik keras dan lembut. Oleh sebab itu, judo dapat pula diartikan sebagai ‘cara yang lentur’.

Di sisi lain, jujutsu memiliki terjemahan harafiah ‘kemampuan yang halus’. Latihan jujutsu dipusatkan pada cara-cara (Kata) tertentu dan formal, sedangkan judo lebih menekankan pada latihan bebas teknik tertentu dalam perkelahian bebas (randori). Hal ini membuat pelatihan judo berjalan lebih dinamis.

Para kontestan jujutsu menggunakan seragam yang relatif berat (hakama). Sedangkan para praktisi awal judo menggunakan semacam celana pendek, tetapi tidak lama kemudian mereka lebih memilih menggunakan busana Barat yang dinilai lebih memiliki keunggulan fungsi dan mengijinkan pergerakan yang lebih bebas. Seragam modern judo (judogi) sendiri mulai dikembangkan pada tahun 1907.

Dalam teknik-teknik jujutsu, selain terdapat teknik dasar seperti melempar dan menahan, menggunakan pukulan, tendangan, bahkan menggunakan senjata pendek. Di sisi lain, judo justru menghindari tendangan dan pukulan-pukulan yang berbahaya, dan justru lebih memusatkan pada teknik membanting yang terorganisir dan teknik bertahan.

Seragam, Perlengkapan dan Matras Judo

Seperti halnya dengan cabang bela diri lain, dalam seni bela diri judo ini pun mengenakan seragam berwarna putih dengan disematkan sabuk berwarna sesuai dengan tingkatan para judoka. Adapun kelengkapan para judoka adalah sebagai berikut:

  1. Seragam dan perlengkapan
  • Seragam Judo

Seragam (gi) longgar yang dikenakan seorang judoka (judogi) harus sesuai ukurannya. Meski terkesan longgar, namun bukan berarti tanpa ukuran. Karena jika Anda mengenakan seragam yang terlalu longgar akan membuat mobilitas Anda kurang maksimal.

  • Jaket

Bagian bawah jaket ini menutupi pantat saat ikat pinggang dikenakan. Antara ujung lengan dengan pergelangan tangan selisih 5–8 cm. Lengan baju panjangnya sedikit lebihndari dua pertiga panjang lengan.

Sebab jaket ini dirancang untuk menahan benturan tubuh akibat dibanting ke lantai, maka dari itu bahan yang dipakai umumnya lebih tebal dari seragam karate (karategi) atau bela diri yang lain.

  • Ikat pinggang

Ikat pinggang harus cukup panjang sehingga menyisakan 20–30 cm yang menjuntai di  masing-masing sisi. Mulai dari kelas pemula (shoshinsha) seorang judoka mulai menggunakan ikat pinggang dan disebut berada di tingkatan kyu kelima.

Dari situlah, seorang judoka naik tingkat menjadi kyu keempat, ketiga, kedua, dan akhirnya kyu pertama. Setelah itu sistem penomoran dibalik menjadi dan pertama (shodan), kedua, dan seterusnya hingga dan kesepuluh, yang merupakan tingkatan tertinggi di judo.

Meskibegitu, sang pendiri, Kano Jigoro, mengatakan bahwa tingkatan judo tidaklah dibatasi hingga ‘dan’ kesepuluh, dan hingga saat ini karena hanya ada 15 orang yang pernah sampai ke tingkat dan kesepuluh, maka tidak ada yang pernah melampaui tingkat tersebut.

Warna ikat pinggang menunjukkan tingkatan ‘kyu’ ataupun ‘dan’. Pemula, kyu kelima dan keempat menggunakan warna putih; kyu ketiga, kedua, dan pertama menggunakan warna cokelat, warna hitam dipakai oleh judoka yang sudah mencapai tahapan ‘dan’, mulai dari shodan, atau dan pertama, hingga dan kelima.

Judoka dengan tingkatan ‘dan’ keenam hingga ‘dan’ kesembilan menggunakan ikat pinggang kotak-kotak bewarna merah dan putih, walaupun kadang-kadang juga menggunakan warna hitam.

Tingkatan teratas, yaitu ‘dan’ kesepuluh, menggunakan ikat-pinggang merah-putih atau merah. Judoka perempuan yang telah mencapai tahap ‘dan’ ke atas memiliki aksen garis putih yang memanjang di bagian tengah ikat pinggang hitam mereka.

  • Celana

Celana yang dignakan sedikit longgar. Di antara ujung celana dengan pergelangan kaki selisih 5–8 cm. Celana panjang ini sedikit di lebihkan dari dua pertiga panjang kaki.Celana dikenakan dan tali celana dikencangkan. Jaket kemudian dikenakan dengan sisi kiri di atas sisi kanan.

Pakailah ikat pinggang dengan cara meletakkannya tengah-tengah sabuk di depan perut, lalu kedua ujung sabuk diputar melingkar di belakang pinggang kembali ke depan, pegang kedua ujung sabuk, lalu talikan dengan kedua ujung berakhir secara horisontal.

2. MatrasJudo

Pertandingan judo digelar di atas karpet ataupun matras judo (tatami) yang berbentuk segi empat (bentuk belah ketupat) dengan sisi 14,55 meter atau sepanjang 8 tatami yang dijajarkan. Selain dialasi dengan matras judo, mayoritas dojo judo sekarang ini pun menggunakan pegas di bawah lantai palsu. Gunanya untuk menahan benturan akibat bantingan.

Namun, matras judo tetap menjadi properti utama yang digunakan ketika pertandingan Judo. Hal ini dikarenakan tidak semua dojo memiliki inovasi pegas.Juga, umumnya pertandingan judo dilakukan di dalam gedung olahraga.

Pertandingan judo diselenggarakan di dalam arena di dalam matras judo yang dibatasi oleh (dan termasuk di dalamnya) garis merah (jonai). Luas arena tersebut umumnya adalah 9,1 meter persegi dan terdiri dari 50 tatami. Waza atau teknik judo yang dipakai di arena di luar garis merah (jogai) tersebut dianggap tidak sah dan tidak dihitung.

Pada awal pertandingan, kedua judoka berdiri di tengah-tengah. Tapatnya di belakang garis sejajar dengan diawasi oleh juri. Sebelum pertandingan dimulai, kedua judoka tersebut menunduk memberi hormat satu sama lain dari belakang garis.

Pada sudut atas dan bawah belah ketupat duduk dua orang hakim, dan di belakang masing-masing judoka (di luar arena yang dibatasi matras judo) duduk judoka-judoka dari regu yang sama, dan duduk pula seorang pencatat waktu dan seorang pencatat nilai.

Fungsi Matras Judo

  1. Melindungi tubuh dari benturan keras

Hampir seluruh cabang bela diri memiliki teknik menjatuhkan lawan, seperti judo, gulat, MMA dan sebagainya.Terlebih judo yang memiliki fokus pada pertahanan diri dan teknik membanting lawan. Untuk meminimalkan adanya benturan, sangat disarankan penggunaan matras dalam seni bela diri yang lentur dan mampu menunjang keamanan, kenyamanan dan keselamatan atlet.

  1. Meminimalkan resiko cedera bagi atlet

Ketika Anda mengalami benturan dengan lantai yang keras, tentu ini akan sangat membahayakan diri Anda. Tak jarang akan mengakibatkan cedera ringan hingga berat. Maka dari itu keberadaan matras dalam segala cabang bela diri sangatlah penting.

  1. Mengurangi terjadinya luka gores

Dalam praktek bela diri, khususnya judo memang tak selalu dilakukan di atas lantai yang memiliki struktur yang halus. Nyatanya ada pula beberapa atlet yang berlatih di pelataran luas yang kadang kala memiliki struktur yang  tak rata. Terlebih adanya teknik membanting yang rawan terjadinya luka gores.

Oleh sebab itu, apabila tidak ada matras yang melindungi Anda saat berlatih, bukan tidak mungkin bela diri yang dilakukan tak jarang meninggalkan luka gores.

  1. Menghindari terjadinya cedera kepala

Selain penggunaan helm, kehadiran matras judo memang tak kalah penting untuk melindungi kepala dari resiko cedera. Sama seperti resiko cedera lainnya, pada bagian yang satu ini memang harus sangat ekstra hati-hati.

Kepala adalah bagian tubuh yang sangat rawan dan paling vital. Maka jangan sampai dalam prakteknya, Anda melewatkan penggunaan matras. Sebab jika Anda tak menggunakan matras, maka resiko gagar otak dapat mengintai Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *